Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


TAUHID

TAUHID itu adalah mengESAkan ALLOH SWT. yaitu :

1.     Tauhidul Af’al.

2.     Tauhidul Asma’.

3.     Tauhidust Sifat.

4.     Tauhiduz Zat.

1. Tauhidul Af’al.

Tauhidul Af’al artinya mengEsa-kan Alloh Ta’ala pada segala perbuatan, cara mendapatkanya ialah dengan pandangan hati bahwa kita meyakinkan dengan sesungguhnya yaitu adanya bumi dan langit serta adanya sekalian isinya ini kejadian dari Alloh swt.

Bahkan apa saja yang ada nampak ataupun tidak nampak, semuanya tidak luput daripada kejadian dari Alloh itu sendiri.

Sebagaimana hadist Nabi SAW :

وَمَنْ نَظَرَاءِلَى شَىْءٍوَلَمْ يَرَي اللهَ فَهُوَبَطِلُ

Waman nadzoro ila syaiin walam yarollaha pahuwa batilu.

Artinya : Barang siapa memandang sesuatu padahal tidak terpandang kepada Alloh maka batal.

Dan Firman Alloh :

فَعَالٌ لِمَايُرِيْدُ

pa’aalul limayuriydu.

Artinya :  Alloh berbuat dengan sekehendakNya.

Untuk jelasnya keterangan Firman tersebut adalah Alloh membuat apa saja dengan kehendakNya.

Inilah yang dimaksudkan Esa Af’al, berarti Jadi, maka setelah Jadi inilah disebut Af’al Alloh.

Selanjutnya bukan lagi Dia<Alloh> berbuat tapi adalah peroses atau Gerak.

Seumpama dia jadi tumbuh-tumbuhan, hidup, meninggi, ataupun memanjang, berdahan, berdaun, juga berkembang dan berbuah, itu adalah Gerak yang di izinkan Alloh,

Berarti bukan lagi dikatakan perbuatan Alloh, tapi itu adalah Gerak.

Adapun hadist Nabi SAW :

لَاتَتَحَرَّكَ ذَرَّةٌاءِلَّابِاِذْنِ اللهِ

Laa tataharroka dzarrotun illabiidznillahi.

Artinya :  tidak ada suatu gerak zurro melainkan izin Alloh

Dan hadist yang lain :

لَاحَوْلَ وَلَاقُوَةَاءِلَّابِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Laahawla walaaquwathaa illabillahil ’aliyil ’aziimi.

Artinya :  Tiada daya dan upaya dan kekuatan kecuali dengan Alloh.

Jangan kita salah pemahaman, dan juga pengkajian, tentang Af’al dan Gerak itu berbeda.

Af’al adalah Alloh Jadi sesuatu seterusnya adalah Gerak, apabila kita salah pemahamanya menjadi Syirik dan Kupur. karena Tauhid itu lawananya Syirik, dan yang sangat berbahaya lagi Tauhid dalam Syirik, merupakan diluar itu Tauhid tapi didalamnya berbau Sirik Khopy.

Seperti contoh ada orang menganggap kita berbuat atau berlaku yang buruk, jahat, bertentangan Syari’at, dikatakan perbuatan Alloh, memang ada keterangan pada Fana’ Af’al makhluk tidak bisa berbuat tapi adalah perbuatan Alloh, Hal inilah kalau salah pemahaman bahwa yang berlaku pada makhluk ini, itu bukan Af’al Alloh melainkan adalah Gerak yang di izinkan Alloh, seandainya kita berlaku buruk atau baik bukan Af’al Alloh melainkan adalah Gerak, barang siapa menganggap itu Af’al Alloh dia menjadi Syirik dan Kapir, untuk lebih jelas bertanyalah pada orang yang lebih Ahli atau yang Mursyid.

2. Tauhidul Asma’.

Tauhidul Asma’ artinya mengEsa-kan Alloh Ta’la pada segala Nama yaitu mengEsa-kan Nama yang dinamakan.

Semua yang bernama dalam alam ini wujud Musammanya Alloh dan sekalian Asma’ itu menuntut kepada yang punya nama, dan yang punya nama itu tetap pada sekalian nama.

ESA itu semuanya nama-nama itu ataupun banyak, akan tetapi hanya nama yang satu yaitu menunjukan Esa Asma’ tidak terlepas daripada Alloh.

Apabila kita sebut Asma’ atau nama, maka tersebutlah atau terucaplah, dan terbukalah bahwa Alloh itulah yang mengeluarkan suara ucapan tersebut.

Sebagaimana firman Alloh, pada hadist Qudsi :

اِذَالَمْ تَرَنِي فَاذْكُرْاءَسْمَاءِي فَاءِنِّي لَااَتْرُقُ اءَسْمَاءَ

Idzaalam taronii padzkur asmaa-ii paainni laa atruku asma’.

Artinya : Apabila kamu melihat Aku maka sebut saja namaKu karena Aku tidak berpisah dari nama.

Tamsilan<gambaran> makna Asma’ itu, umpamanya, coba ambil sebuah kelapa, karena pada kelapa itu semuanya ada nama-nama-nya, seperti kita kupas atau telusuri satu persatu, mulai dari luar  bernama kulit kelapa atau sabut kelapa, di dalam kulit atau sabut kelapa maka ada sayak kelapa, didalam sayak kelapa tersebut ada isinya atau daging kelapa, setelah itu ada air kelapa, dan setelah itu isi atau daging kelapa tersebut diolah maka terdapat patih kelapa, dan didalam patih kelapa tersebut ada terkandung minyak kelapa, didalam minyak kelapa tersebut ada……,
setelah itu semua habislah nama dan tidak ada nama lagi.

Jadi maksud yang demikian itu tiap-tiap sesuatu pasti bernama, akan tetapi Alloh itu sendiri tidak bernama, maka tuntutlah dgn seksama agar kita mengerti yang sebenar-benarnya, karena dalam hal ini sangat luas maknanya, jangan sampai kita berhenti meyakini hanya pada Nama saja.

Pelajarilah dengan tekun dan sunguh-sunguh, dan dengan kejelian, belajarlah kepada guru yang roseh<cerdas> yang bisa menunjukkan dan menuntun kita kejalan yang benar jalan Ma’rifat.

Ma’rifat itu bisa mengenal dengan pengenalan AsmaNya, sesuai dengan firman Alloh :

وَعَلَّمَ اَدَمَ الْاَسْمَاءَكُلَّهَا

Wa’allama adamal asma’ kullahaa.

Artinya : Telah mengajari Alloh kepada Adam sekalian Asma’.  ( Al Baqoroh – 31 ).

3. Tauhidust Sifat.

Tauhid Sifat adalah mengESA-kan Alloh Ta’ala pada segala Sifat yaitu berdiri pada Zat.

Untuk mendapatkan Sifat itu, maka pandangan mata hati serta Iktikodmu bahwa Sifat berdiri pada Zat, seperti sifat pada : Qudrat, Irodat, Ilmu, Hayat, Sama, Bashor, Kalam.

Zat bersifat yang demikian itu, Apabila dengan pandangan mata hatimu dengan Iktikod yang Jazam, bahwa Sifat makhluk Fana’ didalam Sifat Alloh, yakni makhluk tiada melihat melainkan penglihatan Alloh, tiada mendengar melainkan dengan pendengaran Alloh, mahluk tiada berkata-kata, melainkan kalam Alloh, mahluk tiada hidup melainkan hayatulloh.

Dalil yang menunjukan hamba tidak ada mempunyai Sifat, hanya bagi hamba atau mahluk Mazhar Sifat Alloh. seperti Firman dalam Hadist Qudsi :

مَااتَقَرَّبَ اِلَى الْمُقَرِّبُوْنَ مِثْلِ اَدَاءِمَاافْتُرِضَتْ عَلَيْهِمْ وَلَايَزَالُ الْعَبْدُ يَتَقَرَّبُ اِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى حُبَّهُ فَاءِذَاحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمِيْعُهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَةُالَّذِى يُبْصِرُبِهِ وَالِسَانِهِ الَّذِي يَنْطِقُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِسُ بِهَاوَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْسِى بِهَاوَقَلْبُهُ الَّذِى يُضَمِّرُبِهِ

Maataqorroba ilallmukorribuna misli adaa-i mafturidot ’alaihim wala yazaalul ’abdu yatakorrobu ilayya binnawaa pili hatta hubbahu paaizaahbabtuhu kuntu samiy ’uhullazi yasma’u bihi wa basorohullazi yubsiru bihi waalisaanihillaziy yantiku bihi wayadahullatiy yabtisu bihaawarijlahullatiy yamsi bihaawa kollbuhullazi yudommirubihi.

Artinya : Tiada menghampirkan oleh segala orang yang menghampirkan dirinya kepada Aku dengan seumpama mengerjakan barang yang Aku fardhukan atas mereka itu, dan senantiasa hambaku menghampirkan dirinya kepadaKu itu dengan mengerjakan segala ibadat yang sunath. sehingga Aku kasih akan dia dan penglihatannya yang melihat Ia dengan dia dan lidahnya berkata-kata Ia dengan dia dan tangannya memegang Ia dengan dia dan kakinya yang berjalan Ia dengan dia dan hatinya yang bercita Ia dengan dia. ( Hadist Qudsi ).

Maka apabila Sifat tetap yakin hati itu dengan Jazam bahwa Sifat Alloh, artinya keberadaan Sifat itu pada mahluk adalah Mazhar Sifat Alloh.

Apabila sudah sampai Makom Sifat ini akan menanggung pengertian Tajalli Zat, karena pada HakikatNya seseorang tiada menanggung, atau pengertian akan Tajalli Zat sebelum Tahkik atau mantap, Tajalli sifat didalam hatinya.

Kemudian daripada itu bila hapus segala Sifat yang lain daripada Alloh, maka Tajalli-Ia jua< Alloh >. Manakalah Fana’lah Sifat Hayat didalam Sifat Hayun itu pada dirimu, nyatalah yang hidup hanya Alloh SWT. itu jua. Bila berhasil makom Fana’ ini maka jadilah engkau Baqo Bisifatillah.

Inilah kesudahan makom tauhid Sifat yang diharap dan yang dituntut,
kata Arifbillah :

مَنْ عَرَفَ اللهَ لَايَهْفَى عَلَيْهِ السَّيْءٌ

Man ’aropalloha laayahpa ’alaiyhi saiiun.

Artinya : Barang siapa mengenal Alloh dengan sebena-benar mengenal, niscaya tiada berlindung atasNya sesuatu apapun.

4.Tauhiduz Zat.

Tauhiduz Zat artinya mengEsa-kan Alloh Ta’ala pada Zat, Makom inilah yang setinggi-tinggi Makom. Bagi orang yang Arib kesudahan Musyahadah dan pandangan dan kepadanya perhentian perjalanan, Sehingga diperoleh lezat yang tiada terlintas pada hati. Sebagaimana Sabda Nabi SAW. :

كُلُّكُمْ فِي الذَّاتِ اللهِ اَحْمَقُ

Kullukum pidzaatillahi ahmaqu.

Artinya :  Sekalian kamu mendapat Kunhi Zat Alloh Ta’ala.

Cara mengEsa-kan Alloh Ta’ala pada Zat itu, yaitu dipandang mata kepala dan dengan mata hati, Bahwa tiada yang Maujud di dalam Wujud ini hanya ada Alloh Ta’ala, karena apa yang ada ini tidak lain semuanya terjadi dari Alloh Ta’ala itu sendiri, artinya Wujud yang ada ini Qoim pada Wujud Alloh Ta’ala, dan Wujud lain dari Alloh itu suatu Khoyal dan Waham, tiada Hakikat baginya.

Segala yang Mumkin yang Maujud pada Khorij itu pada sekira-kira Wujudnya, yaitu ‘Ain Wujudul Haq SWT. seperti umpama ombak dan buih, ombak dan buih itu daripada  air yang beku, maka sekalian itu dari ‘Ain wujud air.

Itulah sebabnya alam ini adalah Nuskhotul Hak Ta’ala, artinya alam ini cermin Hak Ta’ala, jikalau engkau kehendaki yaitu makhluk yang zohir ia di dalam cermin Hak Ta’ala.

Bermula Wujud Allah Ta’ala dan ZatNya itu bukan Ia Jisim<badan> dan bukan jauhar<permata>, bukan Ia Arodh atau sifat bagi baharu dan bukan Ia Itihad dan bukan Ia Hulul,  tidak berjihad dan tidak pula terbatas, Apabila pandanganmu dengan Tahkik, bahwa tiada yang Maujud ini hanya Wujud Alloh Ta’ala, berarti wujud alam ini Mazhar Wujud Alloh.

Tiada baginya wujud Hakikatnya hanya Wujud Khoyal dan Waham dan Majazi, Sekalian Asma’ ada didalam alam ini, semuanya dilihat Asma Alloh, dan Sifat Alloh dan wujudnya adalah wujud Alloh yakni, bahwa Alloh Ta’ala Maujud pada sekalian Zurrotul Wujud, seperti contoh, kita lihat akan satu biji,.. maka kita ibaratkan, dengan dahan itu dan cabangnya dan daunya, pada semuanya ini tidak terlihat oleh mata, Semuanya itu tersimpan dalam biji itu tadi, atau sekalianya itu jadi daripada yang satu jua, yaitu biji. Begitu juga alam ini kejadian yang banyak yang besar yang kecil, yang nyata dan juga yang tidak nyata, sebangsa apapun juga datang dari Alloh Ta’ala itu sendiri.

Hal ini ber-Ijtihadlah agar dapat mengerti dengan sebenar-benarnya dengan Zuq, bukan hanya dengan lafas, atau hanya kata-kata, dan tidak dapat di surat<ditulis>,

Dan barang siapa mendapatkan Dia itu dengan lafadz dan qoul dan ta’bir maka orang itu kafir zindik Na’uzubillahi minzalik. Dan tidak pula didapat dengan Talqin dari Masyaikh,  Masyaikh hanya menunjukan jalanya, karena ini adalah Amar Zuk, seperti kata ahli Hukama’ :

مَنْ لَمْ يَذُقْ لَمْ يَدْرِي

Manlam yadzuq lamyadrii.

Artinya : Barang siapa tiada merasai, niscaya tiada mendapat Ia. ( Hukama’ )

Orang yang Ma’rifat sebenar Ma’rifat itu bukan dia mendapatkan dari kabar atau cerita dari orang yang lebih tahu. seperti contoh, ada orang yang mengerti dan mengetahui dengan sebuah nama Utriyah yaitu dari tumbuh-tumbuhan, dia sendiri mendapatkan dan di kenalnya, serta disaksikannya dan merasakannya. kemudian orang tadi mengabarkan dan menyampaikan dengan kata-kata kepada orang-orang, tentu yang dia sampaikan itu tidak berbohong, orang yang mendengar itu langsung percaya pada waktu  mendengarkan cerita itu, akan tetapi percayanya itu hanya sebatas mendengarkan cerita itu saja, dan tanpa dia sendirilah yang melihatnya, menemukannya, maka dia bukan di katakan Ma’rifat, sebenarnya belum Syah, karena belum dilihatnya, belum ditemukan olehnya sendiri.

Ketahui olehmu tajalli Zat itu atas tujuh Martabat.

Pertama, Tanzul Zat adalah Martabat  Ahadiat maka zohir segala Sifat dan Asma’, tetapi binasa keduanya dalam Zat, yaitu Martabat Kunhi Zat Alloh SWT, yaitu hakikat Alam.

Kedua, zohir segala Sifat dan Asma dengan Ijmal yakni berhimpun Hakikat Nabi Muhammad SAW. yaitu asal Maujud dan Hayatnya Nabi Muhammad itu Hawiyatul Alam, asal segala Asyia’. Sabda Nabi SAW :

اِنَّ اللهَ حَلَقَ رُوْحَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ مِنْ ذَاتِهِ

وَحَلَقَ الْعَالَمَ بِاءَسْرِهِ مِنْ نُوْرِمُحَمَّدٍصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّامْ

Innalloh halako ruwhannabiyyi sollallohu ’alayhi wasallam mindzaatihi waholaqol ’alama biasrihi minnuwri Muhammadin sollallahu ’alayhi wasallam.

Artinya : Bahwa Alloh Ta’ala telah menjadikan Ia akan Ruh Nabi Muhammad SAW, dari pada ZatNya dan menjadikan Ia akan alam sekalianya daripada Nur Muhammad SAW .(Hadist )

Maka fahamkanlah, Bahwa Nabi kita Muhammad SAW, daripada Nur Zat Alloh, menamakan Alloh Ta’ala dalam Qur’an yang mulia dengan NurNya.

Seperti firmanNya yang Maha Tinggi :

قَدْجَاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُوْرٌ

Qodjaa akum minallohinuwr.

Artinya : Sesungguhnya  telah datang akan kamu daripada Allah Ta’ala itu Nur  (Al-Maidah 15 ).

Ketiga, Martabat Wahadiyat yaitu Zohir padanya segala Sifat dan Asma’, dengan Mutafasilkan akan barang yang ada Ia Mujammal pada Hadirat Wahdah dan Wahadiyat ini, hasillah Khitob dengan ini pada Alloh Ta’ala, yaitu firmanNya :

اِنَّنِى اَنَااللهُ

Innani anaalloh.

Artinya :  Bahwasanya Aku Alloh. ( Tho Ha  14  )

Apabila seumpama Musyahadah ini niscaya dipersalin Alloh Ta’ala dirimu dengan persalin Baqo Billah, yaitulah    yang dituntut dan memakaikan pakaian Mahkota kemulian yang memberi kesukaan pada Hadirat yang Suci jadilah engkau ditunjuki Alloh Ta’ala atas Bashiroh jalan Musyahadah terlebih hampir kepada Alloh jalan yang terlebih Afdol, Sabda Nabi SAW :

تَفَكَّرُسَاعَةً خَيْرَمِنْ عِبَادَةِسَبْعِيْنَ سَنَةً

Tapakkaru saa ’atan khoyromin ’ibaadathi sab’iyna sanatan.

Artinya : Tafakur satu saat yang hasil dalamnya Musyahadah dan Zuq terlebih afdol daripada ibadath yang  sunath 70 tahun. ( Hadist )

Maka Fahamkanlah , akan dia dengan akal yang shofi dan bicara yang sempurna karena bahwasanya ia itu amat rumit.

Di Syurath kan oleh,

Syech H. Muhammad Umar Bin Zainal Abidin. Bin Abdullah. Bin H. Muhammad Tamrin.