VISI & MISI MT. UMMATU WAHIDAH

Istimewa

Tag

, , , , , , , , , , , ,


MAJLIS TA’LIM UMMATU WAHIDAH SUMATERA SELATAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Alhamdulillah dengan rahmat dan hidayah Alloh SWT dan atas dasar rasa sesama manusia serta rasa persaudaraan umat muslim khususnya untuk mewujudkan masyarakat yang hakiki serta mencapai kemaslahatan yang Badaltun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur.

Majlis Ta’lim Ummatu Wahidah di bentuk untuk menjadi wadah kekeluargaan yang dihimpun guna mempererat tali silaturahmi antar sesama Jama’ah Majlis Ta’lim Ummatu Wahidah serta sesama Muslim dan Umat Penganut Agama dan Kepercayaan lainya tanpa membedakan suku, ras, agama serta asal daerah. Juga untuk memurnikan ajaran Tauhid serta membina Akhlak yang baik yang diterangkan Oleh Alloh SWT serta Nabi Muhammad Saw di dalam Al-qur’an maupun Hadist sehingga mereka tidak mudah tergoyahkan serta terprovokator oleh kepentingan dari segelintir pihak yang menginginkan Ummat serta Rakyat menjadi Korban.

Sadar sepenuhnya akan tanggung jawab sebagai Kholifah dimuka Bumi, semoga Majlis Ta’lim Ummatu Wahidah dapat membimbing serta menghadapi dan meniti berbagai halangan dan rintangan sehingga terbentuk JATI DIRI MUKMIN yang berguna dan bermanfaat bagi Masyarakat, Agama, Keluarga serta Pemerintah.

Semua Umat Muslim sedunia pada hakekat yang sebenarnya adalah Saudara sesuai dengan perumpamaan Anatomi Tubuh apabila yang satu sakit maka bagian yang lainpun terasa sakit maka dengan Persaudaraan itulah Majlis Ta’lim Ummatu Wahidah mengajak seluruh Umat Muslim untuk bersatu dan bergandengan tangan menyongsong hari depan yang lebih baik dan semoga Alloh SWT meridhoi segala Niat serta perbuatan baik yang Zohir maupun Batin.

VISI  : Mempersatukan dan memperkokoh Persaudaraan yang mengedepankan rasa kebersamaan dalam mencapai cita – cita sehingga menjadi tempat bernaungnya Umat Manusia dan Menjadikan Manusia khususnya Umat Muslim bisa berdiri sendiri dan menjadi suri tauladan yang baik di Propinsi Sumatera Selatan pada khususnya sehingga tercapainya kemaslahatan Ummat serta harkat dan martabat atas dasar Ukhuwah Islamiah dan kewajiban sebagai warga Negara Indonesia.

MISI  : Mengajak manusia mentauhidkan Alloh SWT sehingga sebaik – baiknya Manusia bisa bermanfaat pada yang lainya sehingga terbentuk masyarakat yang Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur.

اَمِيْنِ ياَرَبَّ الْعَالَمِيْنِ

Amin ya robbal ’alamin

ACARA SYUKURAN ANGGOTA MAJLIS TAKLIM UMMATU WAHIDAH PUSAT PALEMBANG, KAMIS 30 JANUARI 2014

Tag

, , , , , , ,


ACARA SYUKURAN ANGGOTA MAJLIS TAKLIM UMMATU WAHIDAH

PUSAT PALEMBANG, KAMIS 30 JANUARI 2014

ACARA SYUKURAN ANGGOTA MAJLIS TAKLIM UMMATU WAHIDAH CABANG SUKARAME SABTU 25 JANUARI 2014

Tag

, , , , , , , , ,


ACARA SYUKURAN ANGGOTA MAJLIS TAKLIM UMMATU WAHIDAH

CABANG SUKARAME SABTU 25 JANUARI 2014

Galeri

ACARA SYUKURAN DI PALEMBANG 28 – 03 – 2013

Tag

, , , , , , , , , ,

This gallery contains 41 photos.


ACARA SYUKURAN MAJLIS TA’LIM UMMATU WAHIDAH DI PALEMBANG KAMIS 28 – 03 – 2013 BERTEMPAT DI WILAYAH PUSAT PROVINSI SUMATERA …

Baca lebih lanjut

Gambar

SYEH H. MUHAMMAD NAFIS AL BANJARI

Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


SYEH H. MUHAMMAD NAFIS AL-BANJARI

SYEH H. MUHAMMAD NAFIS AL BANJARI

Muhammad Nafis bin Idris bin Husein, demikianlah nama lengkapnya, ia lahir sekitar tahun 1148 H.11735 M., di kota Martapura, sekarang ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dari keluarga bangsawan atau kesultanan Banjar yang garis silsilah dan keturunannya bersambung hingga Sultan Suriansyah (1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam, yang dahulu bergelar Pangeran Samudera.

Silsilah lengkapnya adalah: Muhammad Nafis bin Idris bin Husein bin Ratu Kasuma Yoeda bin Pangeran Kesuma Negara bin Pangeran Dipati bin Sultan Tahlillah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Musta’in Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah.

Muhammad Nafis hidup pada periode yang sama dengan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dan diperkirakan wafat sekitar tahun 1812 M. dan dimakamkan di Mahar Kuning, Desa Binturu, sekarang menjadi bagian desa dari Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong. Dan sekarang makam tersebut menjadi salah satu objek wisata relijius di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Tidak ada catatan tahun yang pasti kapan ia pergi berangkat menuntut ilmu ke tanah suci Makkah. Diperkirakan ia pergi menimba ilmu pengetahuan ke tanah suci Makkah sejak usia dini dan sangat muda, sesudah mendapat pendidikan dasar-dasar agama Islam di kota kelahirannya, Martapura. Di kemudian had, didapati ia belajar dan menuntut ilmu agama Islam di kota Makkah,sebagaimana ia tuliskan dalam catatan pendahuluan pada karya tulisnya “ad-Durrun Nafis” (….. dia yang menulis risalah ini… yaitu, Muhammad Nafis bin Idris bin al-Husein, yang dilahirkan di Banjar dan hidup di Makkah).

Juga tidak terdapat informasi dan catatan tentang apakah ia di Makkah dan Madinah belajar bersama Abdussamad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari dan rekan-rekan mereka yang lainnya, tetapi besar kemungkinan masa belajar Muhammad Nafis di Haramain bersamaan dengan masa belajar Abdussamad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari dan rekan-rekan mereka yang lainnya.

Kesimpulannya, dengan melihat daftar nama-nama guru Muhammad Nafis al-Banjari besar kemungkinan mereka belajar bersama pada satu masa atau masa yang Iain. Sebagaimana kebiasaan para ulama Jawi (Indonesia/Asia Tenggara) abad ke-17 dan ke-18, ia belajar dan menuntut ilmu pengetahuan keislaman kepada para ulama yang terkenal di dunia Islam pada masa itu, baik yang menetap maupun yang sewaktu-waktu berziarah dan mengajar di Haramain, Makkah dan Madinah, dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan Islam, terutama Tafsir, Hadits, Fiqih, Tauhid dan Tasauf.

Di antara guru-gurunya yang tercatat dalam bidang ilmu Tasauf di Haramain adalah:

  1. Syeh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi al-Azhari.
  2. Syeh Shiddiq bin Umar Khan.
  3. Syeh Muhammad bin Abdul Karim as-Samani al-Madani.
  4. Syeh Abdur Rahman bin Abdul Aziz al-Maghribi.
  5. Syeh Muhammad bin Ahmad al-Jawhari.
  6. Syeh Yusuf Abu Dzarrah al-Mishri.
  7. Syeh Abdullah bin Syeh Ibrahim al-Mirghani
  8. Syeh Abu Fauzi Ibrahim bin Muhammad ar-Ra’is az-Zamzami al-Makki.

Karena kegigihannya dalam mempelajari ilmu Tasauf Muhammad Nafis akhirnya berhasil mencapai gelar “Syeh al-Mursyid”, yaitu seorang yang memahami, mengerti, mengamalkan serta mempunyai ilmu yang cukup tentang Tasauf, gelar yang menunjukkan bahwa ia mampu dan diperkenankan serta diberi izin untuk mengajar Tasauf dan Toriqohnya kepada orang lain.

Karena seringnya melakukan dakwah ke pedalaman ia hanya sempat mengarang sedikit kitab. Yang sampai sekarang yang terlacak hanya dua buah kitab saja yaitu:

  1. Kanzus Sa’adah. Yaitu kitab yang berisi tentang istilah-istilah ilmu Tasauf. Kitab ini belum pernah dicetak masih berupa manuskrip.
  2. Ad-Durrun Nafis. Yaitu kitab yang berisi tentang pengesaan perbuatan, nama, sifat dan zat Tuhan.

Kitab ad-Durrun Nafis yang pada mulanya dikarang hanya untuk memenuhi permintaan kawan-kawan, namun pada akhirnya banyak diminati dan tersebar luas ke pelosok Nusantara bahkan sampai negara-negara di Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Kitab ad-Durrun Nafis berisi bagian dari ilmu para wali Alloh, barang siapa mempelajarinya, maka ia akan dicatat oleh para wali sebagai bagian dari mereka. Ini merupakan salah satu karomah dari penyusunnya yaitu Syeh Muhammad Nafis.

Gambar

SYEH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI

Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


SYEH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI

~  SYEH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI  ~

Syeh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syeh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 – 6 Syawwal 1227 H) adalah ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.

Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.

Silsilah keturunan

Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syeh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.

Riwayat
Masa kecil

Sejak dilahirkan, Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil di desa kelahirannya Lok Gabang, Martapura. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Namun pada diri Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya. Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Diantara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau. Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan. Di istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang. Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Menikah dan Menuntut Ilmu di Mekkah

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.

Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.

Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isterinya mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syeh ‘Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syeh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syeh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Syeh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang Tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.

Selain itu guru-guru Muhammad Arsyad yang lain seperti Syeh Ahmad bin Abdul Mun’im ad Damanhuri, Syeh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi, Syeh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syeh Salm bin Abdullah al Basri, Syeh Shiddiq bin Umar Khan, Syeh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syeh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syeh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal, Syeh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani, Syeh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syeh Abis as Sandi, Syeh Abdul Wahab at Thantawy, Syeh Abdullah Mirghani, Syeh Muhammad bin Ahmad al Jauhari, dan Syeh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.

Selama menuntut ilmu di sana, Syeh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syeh Abdussamad Palimbani, Syeh Abdurrahman Misri, dan Syeh Abdul Wahab Bugis.

Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu di Maekkah dan Madinah, timbullah niat untuk menuntut ilmu ke Mesir. Ketika niat ini disampaikan dengan guru mereka, Syeh menyarankan agar keempat muridnya ini untuk pulang ke Jawi (Indonesia) untuk berdakwah di negerinya masing-masing.

kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang di arak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu.

Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.

Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama “Matahari Agama” yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya.

Hubungan dengan Kesultanan Banjar

Pada waktu ia berumur sekitar 30 tahun, Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah demi memperdalam ilmunya. Segala perbelanjaanya ditanggung oleh Sultan. Lebih dari 30 tahun kemudian, yaitu setelah gurunya menyatakan telah cukup bekal ilmunya, barulah Syeh Muhammad Arsyad kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah.

Sultan Tahmidullah II yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya. Sultan inilah yang meminta kepada Syeh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh), yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin.

Pengajaran dan bermasyarakat

 Syeh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Sekembalinya ke kampung halaman dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakannya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Dalam Pagar, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam. Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar.

Di samping mendidik, ia juga menulis beberapa kitab dan risalah untuk keperluan murid-muridnya serta keperluan kerajaan. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Kitab Sabilal Muhtadin yang merupakan kitab Hukum-Fiqh dan menjadi kitab-pegangan pada waktu itu, tidak saja di seluruh Kerajaan Banjar tapi sampai ke-seluruh Nusantara dan bahkan dipakai pada perguruan-perguruan di luar Nusantara Dan juga dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam.

Karya-karyanya

Kitab karya Syeh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah “Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama”. Syeh Muhammad Arsyad telah menulis untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, diantaranya ialah:

  • Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh,
  • Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat,
  • Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri,
  • Kitabul Fara-idl, hukum pembagian warisan.

Dari beberapa risalahnya dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Sedangkan mengenai bidang Tasawuf, ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.

 

Gambar

SYEH ABDURRAHMAN SIDDIQ AL BANJARI

Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


SYEH ABDURRAHMAN SIDDIQ AL BANJARI

~  SYEH ABDURRAHMAN SIDDIQ AL BANJARI  ~

Syeh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad ‘Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari.

(lahir di Dalam Pagar, Hindia Belanda tahun 1857 – meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, 10 Maret 1930 pada umur 72 tahun) adalah seorang ulama dari etnis Banjar yang dikenal karena beliau rajin menulis buku-buku agama mengenai Islam. Semasa mudanya, Abdurrahman banyak menulis buku-buku agama, sejarah dan sastra. Ia dikenal dimana-mana bahkan sampai di Mekkah karena ia juga menjadi guru agama. Muridnya tersebar sampai ke Singapura, Malaysia dan Kalimantan.

Syeh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad ‘Afif dikenal sebagai Pujangga dan Sastrawan yang semasa hidupnya mengarang sejumlah buku sasta dan agama. Tuan guru Syeh Abdurrahman, demikian panggilan hormat beliau telah menulis karyanya berupa kumpulan puisi berjudul “Syair Ibarat Kabar Kiamat” yang diterbitkan oleh Ahmadiyah Press Singapura Tahun 1915. Beberapa syair sangat kritis dalam nuansa religius.

Ia diangkat oleh Sultan Mahmud Shah (Raja Muda) sebagai Mufti Kerajaan Indragiri 1919-1939 berkedudukan di Rengat dan mengabdikan diri di Kerajaan Indragiri.

Karya-karya tulis beliau antara lain :

  • Fathu al’Alim fi Tartib al Ta’lim, diterbitkan di Singapura, Matba’ah Ahmadiah, 1322 H
  • Risalah ‘Amal Ma’rifah, diterbitkan di Singapura : Matba’ah Ahmadiah, 1322 H
  • Majmu’ al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al ‘ulama wa al Muta’allimin wa al Mustami’in, Singapura : Matba’ah Ahmadiah, 1355 H
  • Kitab Asrar al Salat min Uddat al Kutub al Mu’tamadah, selesai ditulis tahun 1334 H/1915 M, diterbitkan di Singapura: Matba’ah Ahmadiah, 1931 M
  • Risalah Sejarah Arsyadiah, Singapura : Matba’ah Ahmadiah, 1354 H
  • Tazkirah li Nafsi wa li Amtsali, Singapura : Matba’ah Ahmadiah, 1354 H
  • Kitab al Fara-id, Singapura: Matba’al Ikhwan, 1338 H
  • Sejarah Perkembangan Islam di Kerajaan Banjar, Singapura: Matba’ah Ahmadiah, 1355 H
  • Bay’u al Hayawan li al Kafirin, Singapura: Matba’ah Ahmadiah, 1355 H
  • Aqaid al Iman, selesai ditulis 1919 M. diterbitkan di Banjarmasin, 1984 M
  • Syair Ibarat Khabar Kiamat, Pertama kali dicetak di Singapura oleh Matba’ah Ahmadiah, tahun 1344. Sebelumnya pada tanggal 1 Juli 1915 M/1344 H. Kitab ini telah di registrasi oleh Pemerintah Inggris di Singapura.

Masjid

Peninggalan Syeh Abdurrahman yang terkenal adalah Masjid yang dibangunnya sendiri pada tahun 1927. Masjid ini berarsitektur khas pada atap dan berada 200 meter dari makamnya.

KETUA DEWAN GURU/ MURSYD (MTUW Toriqoh Samaniah – Palembang)

Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,


SYEH H MUHAMMAD UMAR BIN ZAINAL ABIDIN_

Syeh H. Muhammad Umar bin Zainal Abidin bin Abdulloh bin H. Muhammad Thamrin

Syeh H. Muhammad Umar bin Zainal Abidin bin Abdulloh bin H. Muhammad Thamrin.
Atau dgn panggilan akrab nama keseharianya Buya Umar.

Lahir pada 15 Juli 1942, di Desa Talang Pangeran, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir Sumatera selatan Indonesia.

Dan menyelesaikan Pendidikan Sekolah Rakyat ( SR ) pada tahun 1956/1957.

Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (Pondok Pesantren) lulus pada tahun 1960, lalu melanjutkan pendidikanya di Madrasah Aliyah Swasta (SMAIS) yang diselesaikan tamatan pada tahun 1962/1963 di Palembang.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, pulang ke kampung halaman, dan diminta oleh Uztaz Kiyai Rozali S. Kepala Madrasah Tashiliyah Talang Pangeran Pemulutan untuk menjadi guru bantu MTS dimulai pada hari Rabu tanggal, 3 Agustus 1965 serta mengikuti pengajian orang-orang tua atau di sebut juga dengan istilah Cawisan, yang mempelajari Kitab Nahu Kawakib, dan Kitab Sorop, Kitab Mantek, Kitab Maani, dan Kitab Bayan.

Pada tahun 1970 di angkat menjadi Kepala Sekolah MTS Tashiliyah karena Uztaz Rozali yang pada saat itu sudah lanjut usia.

dan Menikah pada hari Rabu, 4 November 1970 dengan Zahro (lahir di Talang Pangeran, OKI 16 Afril 1948) dan dikaruniai satu orang putra bernama Hifzon (lahir di Palembang, 20 November 1975) dan dua orang putri, bernama Sumarni (lahir di, Palembang 15 November 1980 ) dan Nasithoh (lahir di, Palembang 25 September 1982).

Pada Tahun 1979 di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pensiun pada Tahun 2000.

Pada Tahun 1980, di kota Palembang, mengikuti Pengajian atau Cawisan dan memperdalami Ilmu Tasouf atau Tauhid kepada Guru Mursyid Syech Kgs. Abdurrohman bin Muhammad Umar bin Haji Ibrohim Palimbang Darussalam (wafat pada tahun 2002 di kediaman Satu Ilir Palembang).

Adapun Kitab yang dipelajari yaitu Kitab Ad-Durun Nafis pengarang Syech Muhammad Nafis al Banjari. Banjar Masin, Kitab Al-Hikam pengarang Imam Tajudin bin Ato’illah al Iskandariah, Kitab Al-Qur’an, Kitab Hadist Nabawi, dan Kitab Hadist Qudsi.

Pada Tahun 1990 diangkat dan di Sah-kan oleh Guru Besar Syech Kgs. Abdurrohman bin Muhammad Umar bin Haji Ibrohim Palembani Darussalam. Untuk menjadi Guru Torikoh Samaniah yang mengajar di derah-daerah atau di Pedusunan.

Dan pada Tahun 2004 di minta untuk mengajar di daerah kepulauan Batam, dan juga keluar Negeri Singapore dan Malaysia.

Pada Tahun 2006 di dirikanlah Majlis Ta’lim Ummatu Wahidah Samaniah, di Sumatera selatan berpusat di Palembang.

Pada Tahun 2007 diberangkatkan ke tanah Mekah oleh Gubernur Sumatera Selatan.

Kini Buya Umar terus aktif pada Majlis Taklim Ummatu Wahidah, dan kegiatan da’wah Islam di palembang dan juga tetap aktif pada pembinaan masyarakat muslim pedesaan di wilayah Sumatera Selatan.

Dan juga telah berdiri dan aktif, Majlis Taklim Ummatu Wahidah di wilayah Kepulauan Bangka-Belitung yang berpusat di kota pangkalpinang (berdiri pada tahun 2008).

Sekarang Buya Umar tinggal di Palembang, Jln KI. Azhari. Lrg. Siliwangi 5 Ulu Laut No. 412 Rt. 11.
telp/Hp : 0852 6882 1577